Sebelum investor menyuntikkan dana ke sebuah startup, ada satu proses penting yang hampir selalu dilakukan, yaitu due diligence. Banyak founder mengira proses ini hanya sekadar pengecekan laporan keuangan. Padahal kenyataannya, due diligence startup jauh lebih luas dan detail dari itu.
Investor ingin memastikan bahwa startup yang akan didanai benar-benar sehat, punya potensi berkembang, minim risiko hukum, dan dijalankan oleh tim yang tepat. Bahkan, tidak sedikit startup gagal mendapatkan pendanaan bukan karena idenya buruk, tetapi karena ditemukan masalah saat proses verifikasi berlangsung.
Nah, jika Anda sedang mempersiapkan fundraising, yuk, pahami proses due diligence sejak awal agar bisa menghindari banyak kendala ketika berhadapan dengan venture capital!
Apa Itu Due Diligence?
Sederhananya, due diligence adalah proses investigasi atau pemeriksaan menyeluruh yang dilakukan investor sebelum memutuskan investasi. Tujuannya bukan hanya mengecek kondisi bisnis saat ini, tetapi juga melihat apakah startup punya peluang tumbuh secara berkelanjutan kedepannya. Biasanya proses ini dilakukan setelah startup lolos tahap pitching awal dan investor mulai tertarik untuk masuk lebih dalam.
Disini investor akan memeriksa berbagai aspek seperti:
- Legalitas perusahaan
- Kondisi keuangan
- Struktur saham
- Produk dan teknologi
- Market traction
- Tim founder
- Risiko operasional
- Kepatuhan pajak
Semakin besar nominal investasi, biasanya proses due diligence juga akan semakin detail.
Apa Saja yang Dicek Investor dalam Due Diligence Startup?
Sebelum memutuskan untuk memberikan pendanaan, investor akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi startup. Mulai dari legalitas perusahaan, laporan keuangan, produk, hingga kualitas founder, berikut penjelasannya!
1. Legalitas dan Struktur Perusahaan
Hal pertama yang hampir pasti dicek investor adalah aspek legal. Investor ingin memastikan startup berdiri secara sah dan tidak memiliki masalah hukum tersembunyi. Ada beberapa dokumen yang biasanya diminta, yaitu:
- Akta perusahaan
- SK Kemenkumham
- NIB dan izin usaha
- Perjanjian shareholder
- Kontrak kerja karyawan
- Perjanjian dengan vendor atau partner
- Dokumen HKI atau hak cipta
Selain itu, investor juga akan melihat struktur kepemilikan saham (cap table). Ini bertujuan untuk tahu siapa pemegang saham utama, apakah ada konflik kepemilikan, hingga kemungkinan dilusi di masa depan. Sebagai catatan, masalah legal kecil yang dianggap sepele oleh founder terkadang justru menjadi red flag besar bagi investor.
2. Kondisi Keuangan dan Burn Rate
Dalam proses due diligence startup, laporan keuangan menjadi area yang pemeriksaannya paling mendalam. Investor akan melihat:
- Revenue growth
- Gross margin
- Cash flow
- Burn rate
- Runway bisnis
- Unit economics
- CAC vs LTV
- Profitabilitas
Banyak startup gagal di tahap ini karena angka yang ditampilkan saat pitching ternyata tidak sinkron dengan data aktual. Investor juga biasanya akan mengecek rekening koran perusahaan untuk memastikan arus kas benar-benar valid.
3. Produk dan Teknologi
Jika startup berbasis teknologi, investor pasti akan mengecek kualitas produk dan infrastruktur teknologinya. Beberapa hal yang biasanya dianalisis, yaitu:
- Stabilitas aplikasi
- Security system
- Infrastruktur server
- Skalabilitas teknologi
- Ownership source code
- Dokumentasi produk
- Roadmap pengembangan
Investor tidak ingin masuk ke startup yang ternyata punya masalah keamanan data atau ketergantungan besar pada pihak ketiga. Terutama untuk startup SaaS atau fintech, aspek teknologi menjadi salah satu faktor utama dalam due diligence.
4. Market Validation dan Traction
Investor juga ingin memastikan bahwa produk startup memang dibutuhkan pasar, bukan sekadar terlihat menarik di presentasi. Karena itu akan dilihat indikator seperti:
- Jumlah pengguna aktif
- Retention rate
- Repeat order
- Pertumbuhan revenue
- Churn rate
- Partnership strategis
- Feedback customer
Dalam banyak kasus, traction sering kali lebih penting daripada sekadar ide bisnis. Bahkan menurut banyak diskusi founder dan investor di komunitas startup, investor modern sekarang jauh lebih fokus pada sustainability dibanding sekadar growth cepat.
5. Risiko Operasional dan Bisnis
Selain growth, investor juga melihat potensi risiko yang mungkin muncul. Contohnya:
- Ketergantungan pada satu klien besar
- Tingginya biaya akuisisi customer
- Regulasi industri
- Kompetitor yang terlalu dominan
- Risiko fraud
- Tingkat turnover karyawan
Semakin matang mitigasi risiko sebuah startup, biasanya semakin tinggi kepercayaan investor.
Baca juga: Proses, Tips, dan Hal yang Harus Disiapkan untuk Due Diligence Startup
Mengapa Cap Table Sangat Penting Saat Due Diligence?
Cap table menunjukkan pembagian kepemilikan saham dalam startup. Investor biasanya sangat memperhatikan apakah struktur saham masih sehat atau justru terlalu rumit. Contohnya:
- Founder sudah terdilusi terlalu besar di tahap awal
- Ada terlalu banyak pemegang saham kecil
- Tidak ada vesting founder
- Saham advisor terlalu besar
- Ada konflik kepemilikan yang belum selesai
Cap table yang berantakan bisa membuat investor ragu karena berpotensi menimbulkan konflik di kemudian hari.
Berapa Lama Proses Due Diligence?
Durasi proses due diligence startup bisa berbeda-beda tergantung kompleksitas bisnis dan tahap pendanaan. Rata-rata prosesnya memakan waktu:
- 2–4 minggu untuk seed stage
- 1–3 bulan untuk Series A ke atas
Semakin rapi data room dan dokumen startup, biasanya proses akan berjalan lebih cepat. Karena itu founder sebaiknya mulai menyiapkan dokumen penting bahkan sebelum pitching dilakukan.
Nah, sekarang Anda sudah tahu proses due diligence startup ternyata bukan hanya laporan keuangan saja. Investor akan melihat bisnis secara menyeluruh, mulai dari legalitas, teknologi, market traction, sampai kualitas founder dan kesiapan operasional perusahaan.
Intinya, startup yang menarik bagi investor bukan hanya yang punya ide bagus, tetapi juga yang punya fondasi bisnis kuat dan data yang transparan. Semakin siap startup menghadapi proses due diligence, semakin besar peluang mendapatkan pendanaan yang tepat untuk scale up bisnis.
Yuk, bangun startup dan tumbuh lebih optimal bersama Indogen Capital! Sebagai venture capital yang berfokus pada startup tahap post-seed hingga Series A di Indonesia dan Asia Tenggara, kami tidak hanya menyediakan pendanaan, tetapi juga dukungan strategis, networking, hingga pengalaman operasional untuk membantu Anda membangun bisnis jangka panjang.